Apa Tujuan Hidupmu?

Tahun 2015, persis 10 tahun lalu, adalah pertama kalinya aku menyebut cita-cita iseng: menjadi presiden. Aku tahu cita-cita ini nggak mungkin serius aku kejar. Tapi setidaknya cita-cita jadi presiden inilah yang membuatku berjuang sekeras dan sebaik mungkin, juga kompetitif sekaligus kolaboratif, hingga jadi aku seperti yang sekarang. Lalu apakah jadi presiden adalah tujuan hidupku? Tentu saja bukan.

Di tahun yang sama, aku memupuk impian untuk berkunjung ke luar negeri. Satu-dua percobaan pertukaran pelajar ke Amerika dan Eropa saat itu aku lakukan tapi gagal. Tapi impian ini terus aku pupuk hingga tujuh tahun kemudian aku berhasil menginjakkan kaki di Amerika Serikat, disusul Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, dan Australia dalam rentang waktu tiga tahun. Lantas apakah keliling dunia adalah tujuan hidupku? Sepertinya bukan, ini lebih ke target atau bucket list pribadi.

Saat masih di bangku Aliyah, aku ikut ekskul debat bahasa inggris. Pelatihku saat itu merupakan kakak kelas yang juga mahasiswa UGM. Saat itulah pertama kali aku mengunjungi kampus UGM dan membayangkan menjadi mahasiswa UGM. Lalu aku berhasil menjadi mahasiswa UGM setelah lulus MA, dilanjutkan S2 juga di UGM. Lalu apakah menjadi mahasiswa UGM dan menjadi KAGAMA adalah tujuan hidupku? Bukan.

Ada juga sesuatu yang belum aku gapai, misalnya mendapatkan jodoh yang baik lalu membangun keluarga kecil yang seru dan menggemaskan. Tapi apakah itu tujuan hidup? Bukan juga, rasa-rasanya itu hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan hidup.


Pertanyaan soal tujuan hidup ini sepertinya sepele. Padahal kenyataannya sebaliknya, menjawab pertanyaan ini pun susah dan perlu refleksi mendalam. Aku akhirnya sampai kesimpulan bahwa tujuan hidupku adalah “membantu orang dengan baik tanpa merepotkan diri sendiri”. Aku pun nggak yakin itu merupakan tujuan hidup yang pas dan layak, tapi itu setidaknya jadi hasil dari upayaku berefleksi untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini—refleksi yang aku lakukan sekembalinya dari AS dan menulis buku keduaku.

Lalu bagaimana jika kamu—juga aku—bingung akan tujuan hidup yang “aku banget, nih”? Apakah lantas kita nggak layak untuk melanjutkan hidup? Apakah kehidupan kita jadi nggak bermakna?

Enggak, bukan seperti itu. Tujuan hidup yang sangat terpersonalisasi nggak harus dimiliki setiap orang. Tapi ada baiknya kita juga punya walaupun masih bingung dengan diri kita sendiri. Kenapa? Sederhana saja, hidup kita yang diprediksi berjalan selama puluhan tahun ini terlalu sayang jika nggak ada tujuan yang jelas.

Salah satu cara mudah untuk menemukan tujuan hidup adalah dengan mengikuti templat. Nah, ini bagian paling menariknya.

Tahun 2021 saat aku sedang baca beberapa buku cukup tebal aku menemukan “tujuan hidup umat manusia” dalam dua versi yang sangat kontras. Versi pertama adalah versi sekuler, ditulis oleh Yuval Noah Harari di buku Sapiens yang sangat masyhur. Versi kedua adalah versi agama (Islam) yang ditulis oleh Kiai Hamim Ilyas di dalam bukunya Fikih Akbar.

Tujuan hidup umat manusia di dua buku ini amat sangat mirip, hampir sama persis, yaitu:
  1. Sejahtera (versi Fikih Akbar: sejahtera sesejahtera-sejahteranya; lahum ajruhum ‘inda rabbihim)
  2. Damai (versi Fikih Akbar: damai-sedamai-damainya; wa laa khaufun ‘alaihim)
  3. Bahagia (versi Fikih Akbar: bahagia-sebahagia-bahagianya; wa laa hum yahzanuun)

Ini bagiku sangat mengherankan, sebab Harari melandaskan pemikirannya pada filsafat dan sejarah umat manusia, tanpa mempertimbangkan agama sebagai rujukan utama. Sementara Kiai Hamim melandaskan tiga poin tersebut berdasarkan tujuan agama, yaitu kehidupan yang baik (hayah thayibah). Kehidupan yang baik kriterianya adalah tiga poin di atas. Baik hayah thayibah maupun tiga poin tujuan hidup manusia dilandaskan pada ayat-ayat Al-Quran.

Maka, jika kita bingung apa sih sebenarnya tujuan hidup kita, tiga poin tujuan hidup umat manusia ini perlu dipertimbangkan menjadi alasan kita hidup dan berjuang setiap hari. Pertama, sejahtera, bagaimana kita mencukupi diri dengan pangan, sandang, dan papan yang layak. Artinya kita membutuhkan pekerjaan yang baik dan uang yang cukup banyak untuk menjadi sejahtera dan mencukupi diri serta keluarga kita.

Kedua, damai. Bukan hanya tentang perasaan yang damai, melainkan juga jauh dari konflik dan ketakutan. Hidup di tempat yang aman dan nyaman juga masuk dalam kriteria ini. Menjadi pemimpin di tingkat daerah untuk mengupayakan kehidupan yang baik, bebas dari konflik, dan jauh dari ketakutan dapat masuk ke dalam poin kedua ini.

Ketiga, bahagia. Kata Harari, bahagia pada dasarnya memang kepuasan secara mental akan keadaan kita. Keadaan sehat secara mental juga menandakan bahwa diri kita bahagia. Tetapi, sehat secara fisik juga merupakan indikator kebahagiaan, karena bagaimana ceritanya kita bisa bahagia kalau diri kita sendiri sakit-sakitan?

Maka cukuplah tiga poin ini menjadi tujuan hidup kita, simpel dan nggak perlu terlalu banyak berefleksi. Selain itu, di luar perkara surga dan neraka, tiga hal ini menjadi tolak ukur kehidupan yang baik di dunia. Tetapi kalau bicara tentang akhirat, tiga hal ini menjadi modal yang penting juga untuk kita berbuat baik sehingga bisa mendapat ganjaran surga.

Kalau sekiranya tiga tujuan hidup ini terlalu berat, aku punya ide lain, yaitu melakukan aktivitas-aktivitas kecil setiap hari yang menyenangkan.

Misalnya, jalan kaki 7.000 langkah setiap hari, menyeruput segelas kopi setiap pagi, nonton satu episode One Piece setiap hari, atau mungkin merasakan jatuh cinta setiap hari.

Bagaimana, siap menentukan dan hidup sesuai dengan tujuan hidupmu?

Komentar

Postingan Populer