Kita Syukuri Gelar Magister Itu
Memori manusia nggak muncul begitu saja seiring dengan bayi lahir ke dunia. Sebagian orang mengalami memori pertama di usia dua tahun, sebagian yang lain di usia tiga atau empat tahun. Pertama mengingat, biasanya hal-hal dasar, pengalaman baik maupun buruk yang melekat sampai dewasa. Ini biasa disebut sebagai core memory.
Memori selanjutnya biasanya adalah istilah-istilah baru. Dalam pengalamanku pribadi, salah satu istilah paling awal yang aku ingat adalah gelar akademik. Ketika pertama mengenal gelar akademik aku belajar bahwa bapakku bergelar Drs (doktorandus) di depan nama, sementara ibuku bergelar Dra (doktoranda), juga di depan nama. Kedua gelar akademik ini setara dengan sarjana, berlaku sampai tahun 1990 di Indonesia sebelum digantikan oleh gelar sarjana di akhir nama.
Saat aku pertama kali belajar soal istilah gelar akademik, ibu belum kuliah S2. Sementara bapak sedang dalam proses menyelesaikan S2.
Selain gelar bapak dan ibu, salah satu gelar akademik yang aku tahu adalah tetangga sebelah rumah, namanya Pakde Harto. Aku biasa main ke rumah beliau dengan anak-anak beliau, Mas Ihsan dan Mas Kamal. Biasanya aku main dengan mereka berdua, sekadar duduk manis di ruang tengah menonton Mas Ihsan atau Mas Kamal main PS, saat itu masih PS 1.
Di ruang tengah tersebut pula ada sebuah hiasan dinding, semacam kaligrafi dan terdapat tulisan: Drs. H. Suharto, S.H., M.A. Ini adalah gelar Pakde Harto, lebih panjang dari yang dimiliki oleh bapakku. Meskipun beberapa tahun kemudian ketika aku mulai masuk TK tahun 2003, tahu-tahu bapakku sudah menambah gelar di belakang nama: M.Ag.
Nggak terbayang di benak Naban kecil saat itu untuk punya gelar sampai tingkat yang sama tingginya. Dulu ketika melihat orang kuliah S2 itu ya seperti melihat orang yang berilmu tinggi dan sangat hebat. Sampai ketika aku menjalaninya sendiri, ternyata biasa-biasa saja, nggak sehebat itu. Aku tetap merasa nggak berilmu tinggi dan jauh dari kata hebat.
Fast forward, pekan ini, tepat sehari sebelum libur Lebaran, aku menerima surat keterangan lulus. Membuatku resmi menyandang gelar M.Sc.
Lika-liku Kuliah S2
Sebagian orang mungkin memilih untuk nggak melanjutkan studi hingga S2. Entah faktor biaya, sedang mengejar karir, atau faktor lain. Data menunjukkan persentase lulusan S2 di Indonesia sangat sedikit, hanya sekitar 0,45%. Karena hal ini aku sempat bertanya-tanya pula, apakah kuliah S2 adalah pilihan yang tepat? Tapi setelah menjalaninya, ternyata bagiku kuliah S2 adalah keputusan terbaik. Aku menjalaninya dengan senang hati sekaligus cocok dengan duniaku.
Saat S1 aku juga senang dengan bidang keilmuannya. Tapi harus diakui, perjalanannya berat. Selain itu pembelajarannya cukup jauh dari dunia yang sudah aku jalani beberapa tahun sebelum kuliah.
Selain faktor ideal seperti mengejar kedalaman ilmu dan karir, harus diakui bahwa gelar adalah modal sosial. Suka-tidak suka, gelar yang melekat dengan nama dilihat oleh orang lain sebagai bagian dari kesan pertama. Terlebih bagiku di lingkungan Muhammadiyah, kami nggak mengenal keturunan atau harta untuk memandang seseorang. Tetapi gelar ternyata berpengaruh.
Meskipun gelar belum tentu menunjukkan bahwa seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, setidaknya gelar menjadi indikasi bahwa seseorang memiliki kemungkinan telah sungguh-sungguh dalam berjuang. Perkuliahan S2 ini aku bisa dibilang hadir di kelas dan mengerjakan tugas jauh lebih serius dibanding saat S1. Pada saat bersamaan aku juga tetap beraktivitas di organisasi dan mengejar pertukaran pelajar/pemuda.
Saat masuk S2 di paruh kedua tahun 2022, aku masih aktif menjadi bagian dari Pimpinan Pusat IPM. Lalu di semester pertama aku menerima Fellowship YSEALI ke Amerika Serikat selama satu bulan. Dilanjutkan dengan menjadi panitia Muktamar Muhammadiyah bidang media.
Di ujung pengerjaan tugas akhir, kelulusanku harus tertunda dari akhir 2024 ke awal 2025 karena fokus terpecah. Tapi ini bukan sesuatu yang aku sesali. Penundaan kali ini terjadi karena aku jadi salah satu peserta pertukaran pemuda AIMEP ke Australia, yang seleksinya sangat kompetitif dan memberikan pengalaman dan perjumpaan yang sangat berharga.
Kita Syukuri Gelar Magister Itu
Pada akhirnya, perjuanganku (dan mungkin juga generasiku) nggak seberat dahulu. Saat bapak dan ibuku S2, ujian mereka betul-betul nyata. Keterbatasan ekonomi, tuntutan pekerjaan yang tinggi, sambil mengurus anak. Bagi generasi bapak dan ibuku, bisa kuliah saja mungkin sudah merupakan keajaiban.
Saat aku kuliah, alhamdulillah biaya selalu ada. Selain dengan dukungan beasiswa, bapak dan ibu juga sudah bertekad untuk menyekolahkan anak-anak sampai bangku S2. Aku juga belum dipusingkan dengan pekerjaan yang serius, juga belum berumahtangga.
Tapi bukan berarti tanpa ujian, bagiku dan generasiku, ujian yang kami alami berbeda. Banyaknya pilihan membuat bimbang, sulit memilih, dan jadi nggak fokus karena terdistraksi banyak hal. Istilahnya paradox of choice, manifestasi dari peribahasa "rumput tetangga lebih hijau" dan "urip iku mung sawang-sinawang". Era kita sekarang memperlihatkan seolah kehidupan orang lain serba baik, padahal sangat mungkin nggak seindah apa yang terlihat.
Dengan ujian-ujian tersebut aku masih dapat memilih jurusan yang tepat. Menjalani dengan sebaik-baiknya dengan memberikan energi serta perhatian yang cukup untuk kuliahku. Akhirnya lulus juga dengan baik (walaupun sedikit lewat dari batas tepat waktu 5 semester). Tapi dengan segala hal yang aku lalui dua tahun belakangan, apa yang aku capai pekan ini patut disyukuri.
Terlebih lagi sepekan terakhir, aku harus jatuh-bangun menyiapkan sidang, revisi tesis, submit artikel jurnal, mengejar-ngejar acc dosen, sampai mengumpulkan belasan berkas sebagai syarat yudisium. Semua aku lakukan hanya dalam lima hari kerja—tentu saja juga lima hari meninggalkan Jakarta. Maka, gelar ini patut dirayakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Lewat tulisan ini, aku juga mendukung teman-teman yang sudah sarjana tetapi bimbang apakah melanjutkan studi atau enggak. Aku mendorong teman-teman untuk lanjut S2, terlebih jika punya biaya yang cukup atau keinginan yang besar mengejar karir dan kehidupan yang lebih baik. Sembari membangun karir dan memperkuat jejaring, kuliah S2 pada jurusan yang tepat dapat menjadi bekal yang baik untuk kita mengupayakan kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.
Mari kita kejar sekolah setinggi mungkin untuk memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan yang sangat sulit diubah jika hanya berbekal usaha keras. Terkadang kita perlu privilese, dan pendidikan adalah satu dari sedikit privilese yang dapat kita upayakan.
Komentar
Posting Komentar